topbella

Thursday, March 05, 2009

AHP (Analytical Hierarchy Process)

Dua hari kemarin, aku disuruh ikutan kursus Application of Analytical Hierarchy Process for Prioritizing atau sering disebut AHP di kantor. Kebetulan aku emang blom pernah ikut kursus ini. Ehm... apa sih AHP itu??

AHP singkatan dari Analytical Hierarchy Process, yaitu sebuah metode yang bisa dipakai untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan cara menyederhanakan dan mempercepat proses pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan tersebut kedalam bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki, lalu memberi nilai numerik atau disebut bobot berdasarkan pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel dan mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel yang mana yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.

Dalam AHP ini yang terpenting pertama yang harus dilakukan adalah menentukan goal, apa yang menjadi tujuan kita dalam pengambilan keputusan tersebut. Setelah kita tau tujuannya, lalu kita menentukan kriteria. Maksudnya adalah kita menentukan apa saja yang menjadi kriteria atau komponen untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi kita harus menentukan kriteria yang tepat untuk permasalahan yang dihadapi. Setelah kita mendapatkan kriteria-kriteria apa saja yang akan menjadi dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan tersebut, selanjutnya adalah mencari option atau pilihan-pilhan dari keputusan yang akan kita ambil, dengan berdarkan pada kriteria-kriteria yang telah kita tentukan sebelumnya. Untuk mudahnya seperti ini nih gambarannya..



Dihari kedua, mulai seru nih, jadi dibuat semacam game gitu, dibikin satu kasus, ceritanya kita membuat suatu forum group discussion (FGD) untuk menentukan kebijakan dalam menstabilkan harga minyak goreng, mengingat saat ini , harga minyak goreng meningkat tajam sebagai akibat kenaikan harga CPO di pasar internasional, coz minyak goreng merupakan salah satu produk turunan CPO yang mempunyai nilai startegis. Seperti kita tau juga kalo Kenaikan harga minyak goreng akan langsung berpengaruh pada pengeluaran rumah tangga dan dampaknya akan semakin signifikan untuk masyarakat miskin ataupun industri kecil yang banyak menggunakan minyak goreng. Kenaikan harga minyak goreng juga berkaitan langsung dengan inflasi, indikator ekonomi makro yang selalu diwaspadai semua pihak. Untuk itu, peran pemerintah untuk melakukan pengendalian merupakan suatu keharusan.

Pertama, kita dibagi dalam beberapa kelompok yang mewakili barbagai kalangan dan kepentingan. Ada yang mewakili para petani, pengusaha industri minyak goreng, konsumen, government dan ada juga perwakilan dari para pedagang. kebetulan aku mewakili konsumen. So tugasku menyuarakan aspirasi dari para konsumen soal minyak goreng ini, tentunya konsumen ingin harga minyak goreng yang murah dan terjangkau donk!!!!

Pertamanya kita memperkenalkan diri dulu, seolah2 ini bener ada di suatu forum untuk membuat kebijakan, acaranya dibuat seperti formil gitu deh. Dari hasil diskusi forum dengan ada debat-debat dikit lah, akhirnya terbentuk 4 kriteria yang akan kita gunakan dalam memilih kebijakan itu :
1. Efektif. Jadi kita ingin kebijakan itu efektif dalam mencapai tujuan yaitu menstabilkan harga minyak goreng.
2. Implementasi. Kebijakan itu harud mudah diimplementasikan atau dilaksanakan
3. Cost. Semurah atau semahal apa harga dari kebijakan itu, tentunya kriteria ini berasal dari governmnet donk, soalnya kan menyangkut APBN.
4. Gejolak Sosial. Maksudnya apakah kebjakan itu akan menimbulkan gejolak sosial yang besar atau tidak.

Setelah kriteria ditentukan, lalu kita menentukan option kebijakan apa yang kira2nya akan kita ambil atau dipilih. Lalu kita menentukan beberapa alternatif kebijakan tersebut yaitu PPN DPT atau Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah yaitu semacam subsidi untuk industri dengan meniadakan PPN, Pajak Ekspor (PE) yaitu pajak yang ditetapkan untuk CPO yang akan diekspor, Operasi Pasar dan Subsidi untuk orang miskin.

Nah, selanjutnya adalah melakukan
1. Comparative Judgment, kita membuat suatu matriks perbandingan preferensi berpasangan setiap alternatif keputusan (option) untuk setiap kriteria yang menjadi pertimbangan pada saat membuat keputusan (pada tahapan ini dilibatkan beberapa staf ahli), dengan memberikan bobot atau nilai.
2. Sintesis,
a. pertama Jumlahkan nilai pada setiap kolom matriks tersebut,
b. Normalisasikan nilai pada setiap kolom dengan membagi skor dengan. jumlah kolom. Hasilnya adalah matriks yang dinormalisasi.
c. Rata-ratakan nilai setiap baris matriks normal ini untuk menghasilkan vektor preferensi.
d. Lalu Kombinasikan vektor preferensi ini untuk setiap kriteria ke dalam matriks preferensi yang menjelaskan preferensi setiap alternatif pilihan terhadap setiap kriteria yang dipertimbangkan.
3. Buat sebuah matriks perbandingan preferensi berpasangan antar kriteria.
4. Normalisasikan matriks tersebut dengan membagikan jumlah kolom kepada nilai-nilai kolomnya.
5. Buat vektor preferensi dengan merata-rata baris dari matriks normal.
6. Lalu Hitung total skor setiap keputusan alternatif dengan mengkalikan vektor preferensi kriteria tersebut dengan matriks kriteria yang dihasilkan pada langkah 2.d.
7. Buat rank setiap keputusan alternatif berdasar skor yang dihasilkan pada langkah 6

Dibawah ini tabel hasil dari latihan studi kasusnya.... (sorry bgt tabel nya belakangan aku update deh, gak sempet rapihin dulu neeh...)

kesimpulannya dulu aja deh..

Dari hasil score akhir, dapat disimpulkan bahwa:

- Dalam mencapai tujuan menstabilkan harga minyak goreng, effektifitas merupakan kriteria yang paling unggul

- Kebijakan PPN DPT merupakan kebijakan yang paling kecil gejolak sosialnya

- Kebijakan Pajak Ekspor terhadap CPO merupakan kebijakan yang paling efektif dalam menstabilkan harga minyak goreng

- Dalam segi biaya yang dibutuhkan, kebijakan Pajak Ekspor merupakan yang paling murah atau paling kecil membutuhkan biaya dan yang paling mahal adalah kebijakan Subsidi kepada orang miskin

- Kebijakan Pajak Ekspor dan Kebijakan PPN DPT sama mudahnya dalam segi implementasi.

5 comments:

Anonymous said...

thanks banget dah nulis mbak
ini bahan buat skripsi ^_^

Deasi said...

Sama-sama, syukur Alhamdulillah kalo bermanfaat untuk orang lain

ASRIZAL said...

ass...

dea saya bisa mint amateri detailnya ....di email atau di upload ..

thank ya..

Anonymous said...

Mbak ikut kursusnya dimana
rohmat.taufiq@yahoo.com

Dea said...

@ Asrizal, Bang Eri, maaf dea baru baca komennya. Insya Allh ya nanti dicari dulu masih ada atau gak bahannya, kaykany sih waktu itu bahannya berupa hardcopy :)

@ Mas Rohmat, waktu itu yg ngadain kursus kantor, manggil pengajar dari luar untuk ajarin kita.

Post a Comment

Kasih Komentar

About Me

My Photo
Dea
Working as a Researcher for Ministry of Trade. Live in Jakarta. A wife of fabulous husband and the mother of adorable Son. And still trying reach my dreams…
View my complete profile